Posted by: Harry on: Kamis,14 Februari, 2008
Seorang pria Taiwan menikah dengan wanita yang tidak pernah dikenal dan dilihatnya sampai tiba malam pengantin. Mereka menikah karena dijodohkan oleh orangtua mereka. Di malam pengantin, pria itu terkejut dan lari menemui ibunya karena melihat wajah buruk sang istri. Wajahnya dipenuhi bintik-bintik, hidungnya cacat, alis matanya jarang, ada goresan di kelopak matanya yang membuat matanya terlihat bengkak. Sejak malam pengantin, pria itu tidak mau sekamar dengan wanita tersebut, namun enam bulan kemudian ia terpaksa tidur sekamar karena desakan orangtuanya. Dan akhirnya mereka memiliki anak. Penghasilan pria itu sangat minim, namun istrinya bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Tigapuluh tahun setelah mereka menikah, kornea mata pria itu rusak karena radang. Dokter menyarankan supaya ia menjalani transplantasi kornea. Ketika istrinya mengetahui hak itu, ia mengeluarkan tabungannya sebanyak limaratus dolar. Singkatnya, pria itu dioperasi karena ada orang yang mendonorkan korneanya. Pada masa penyembuhan, ia merenungkan semua perbuatan yang dilakukannya kepada istrinya. Selama tigapuluh tahun ia jarang tersenyum kepada istrinya; ia tidak pernah mau berjalan bersama; ia selalu bersikap dingin; jika ia marah maka istrinya akan mengangkat kepalanya sambil memberi senyum ketaatan; ia melarang istrinya untuk menjenguknya; bahkan tak jarang ia mengharapkan kematian istrinya. Walaupun demikian, di setiap keadaan istrinya membuktikan bahwa ia adalah wanita yang diberkati Tuhan dengan kesabaran dan cinta yang sangat besar.
Setelah sembuh, ia pulang ke rumah dan disambut dengan meja yang dipenuhi oleh makanan. Semua itu disiapkan oleh istrinya karena ia bisa melihat kembali.
”Engkau telah kembali, ” sapa sang istri.
”Terima kasih karena telah membuatku dapat melihat kembali, ” itulah penghargaan pertama yang diberikan pria itu kepada istrinya.
Mendengar itu istrinya bersandar ke dinding, sambil menghapus air mata ia berkata, ”Cukup bagiku mendengar engkau mengatakan hal itu. Selama ini aku tidak hidup dalam kesia-siaan.”
Mendengar itu, putrinya berkata, ”Ibu, biarkan ayah tahu bahwa Ibu yang telah memberikan kornea mata itu untuknya.”
”Nak, itu kewajiban ibu!” katanya dengan tegas.
”Bunga Emas,” itulah pertama kalinya pria itu menyebut nama wanita yang sudah tigapuluh tahun mendampinginya.
”Mengapa…mengapa engkau melakukan semua ini?” tanya pria itu sambil memeluk tubuh istrinya dengan penuh cinta kasih. Cinta yang besar dibuktikan oleh ketulusan dan pengorbanan yang besar.
Komentar Terakhir